-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dituduh Menjual Es Berbahaya, Sudrajat Menyimpan Trauma

Kamis, 29 Januari 2026 | Januari 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-29T15:22:31Z

 

Puluhan tahun hidup Sudrajat berjalan di jalur yang sama. Setiap pagi, bahkan sebelum Jakarta benar-benar terjaga, lelaki berusia 50 tahun itu sudah berangkat dari rumahnya. Ia mengambil es gabus dari kawasan Depok Lama, lalu mendorong dagangannya menyusuri Jakarta Pusat hingga sore hari.

Kemayoran, Pasar Baru, Kota Tua—jalan-jalan itu bukan sekadar rute, melainkan ruang hidup yang memberinya nafkah sejak 2007, bahkan jauh sebelumnya.

Hampir tiga dekade ia menjalani profesi itu tanpa riak. Tak banyak cerita, tak banyak masalah. Hingga satu Sabtu (24/1/2016) siang hidupnya berubah arah.

Hari itu, Sudrajat berjualan seperti biasa di kawasan Kemayoran. Tanpa peringatan, sejumlah aparat mendatanginya. Tuduhan yang dilontarkan membuatnya terdiam: es gabus yang ia jual dianggap berbahaya, bahkan disebut terbuat dari spons—bahan yang diklaim membahayakan kesehatan.

Bagi Sudrajat, tuduhan itu seperti petir di siang bolong. Selama puluhan tahun berjualan, ia mengaku tak pernah menerima keluhan dari pembeli.

“Saya jualan es kue sudah 30 tahun, tidak pernah ada komplain. Baru Sabtu kemarin kejadian seperti ini,” ujarnya lirih.

Kecurigaan itu kemudian berubah menjadi tekanan. Sudrajat dibawa ke sebuah pos bersama seluruh dagangannya. Di sana, menurut pengakuannya, proses klarifikasi berubah menjadi perlakuan kasar.

“Saya dikepung lalu dipukul. Yang memukul polisi dan tentara,” katanya.

Dalam situasi tertekan, Sudrajat berusaha menjelaskan bahwa es gabus itu bukan buatannya sendiri, melainkan dibeli dari pemasok. Ia bahkan menawarkan agar aparat ikut langsung ke tempat produksi di Depok untuk memastikan bahan dan proses pembuatannya. Namun penjelasan itu tak menghentikan tindakan yang ia alami.

Untuk membuktikan bahwa es tersebut bukan terbuat dari spons, Sudrajat membuka satu per satu dagangannya. Es-es itu diremas hingga mencair.

“Esnya diremas-remas sampai hancur seperti air, lalu saya disuruh makan,” tuturnya.

Alih-alih mendapatkan kepercayaan, ia mengaku dipaksa mengakui sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Tubuhnya menjadi saksi. Lebam di dada hingga bahu masih terlihat jelas.

“Ini di dada sampai bahu. Saya ditonjok, disabet pakai selang, ditendang pakai sepatu, disuruh ngaku. Saya bilang ini es beneran, tapi tetap dipukul,” keluhnya.

Sejak sekitar pukul 15.00 WIB hingga malam hari, Sudrajat ditahan di dalam pos. Ia mendengar kabar bahwa ada anak-anak yang disebut jatuh sakit setelah mengonsumsi es gabus tersebut—informasi yang menurutnya digunakan sebagai pembenaran atas tindakan aparat.

“Katanya ada anak-anak sakit. Saya sampai mau nangis, dikurung di pos,” ucapnya.

Tak hanya itu. Sudrajat juga dilarang kembali berjualan di wilayah Kemayoran.

“Mereka bilang jangan sekali-sekali dagang di sini lagi. Kalau masih dagang, akan ditarik lagi,” katanya.

Ancaman itu membekas. Sejak kejadian tersebut, Sudrajat mengaku belum berani kembali berdagang, meski pelanggan setianya masih ada di berbagai sudut Jakarta Pusat.

“Biasanya saya jualan di Kemayoran, Pasar Baru, sampai Kota Tua. Kalau di tempat kejadian itu, saya kapok,” ujarnya.

Malam itu, Sudrajat baru pulang menjelang subuh. Ia tiba di rumah sekitar pukul 04.00 WIB tanpa pendampingan, tanpa pengantaran. Ia hanya menerima uang Rp300 ribu dari atasan aparat, saat kondisi tubuhnya penuh lebam.

“Tidak diantar, tidak ada permintaan maaf,” katanya.

Belakangan, hasil pemeriksaan Tim Keamanan Pangan Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Polda Metro Jaya menyatakan bahwa seluruh sampel es gabus yang diperiksa layak konsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya. Aparat yang terlibat pun menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka, serta mengakui telah terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Namun bagi Sudrajat, kebenaran ilmiah itu datang terlambat.

Es gabusnya memang dinyatakan aman. Tetapi rasa aman dalam dirinya belum sepenuhnya kembali. Jalanan yang dulu menjadi ruang hidup kini terasa asing. Setiap seragam, setiap teguran, masih menyisakan bayang-bayang ketakutan.

Di antara es yang mencair dan tubuh yang memar, Sudrajat menyimpan satu luka yang paling sulit disembuhkan: trauma seorang pedagang kecil yang kehilangan keberanian untuk kembali berdiri di tempat ia biasa mencari hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update